Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km
persegi. Berada di Palestina Selatan, “terjepit” di antara tanah yang
dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta
dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya. Sudah lama Israel
“bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa
masuk ke dalamnya saja Israel sangat kesulitan.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil
ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan
makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga
kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas
penjajahan Zionis semakin menguat.
Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini
sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan”
ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan
cadangannya. Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer
terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.
Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau,
serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para
mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang
didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi
pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom
canggih” buatan Amerika Serikat. Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain”
yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang
dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal
senjata-senjata “kuno”.
Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada
para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan
lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad
para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama
pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para
jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat
mereka.
Berikut ini adalah rangkuman kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk kita ingat dan renungkan.
Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel
sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu. Suatu hari di
penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang
berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al
Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel. Seluruh anggota
keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak
laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan
(25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu
menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju
hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga
laki-laki malang itu pingsan. Selama tiga hari berturut-turut, setiap
ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai
seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan
keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik
Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya
“pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan
oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari
kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan
kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.” Akan tetapi tentara Israel
itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu
tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak
melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,”
jawaban satu-satunya yang ia miliki.
Suara Tak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib
masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah
ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr
Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi
Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).
Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau
yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan
tersebut. “Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat
sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank
yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang
tadi.
Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena
mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat
banyak. Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu
mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih,
“tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar
berulang-ulang sebanyak tiga kali. “Saya mencari sekeliling untuk
mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya
malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap
mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.
Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika
sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib”
terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di
dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika.
Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya
sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah
khatib.
Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali,
dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu
Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga)
mengatakan,
“Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan
tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang
yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk
memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu
tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”
Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang
penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama
keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.
Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian
menangis?” tanyanya. “Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri
kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang
bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan
musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.
Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh
mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel
sendiri menyatakan hal serupa. Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV
Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang
ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.
“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih
mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga
saya buta,” kata anggota pasukan ini. Di tempat lain ada serdadu Israel
yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak
diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.
Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan,
“Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot
panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel
10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?
Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut
membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan. Sebuah
kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI
Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat
mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki
mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu. Untunglah para mujahidin
selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak
disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk
menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.
Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana
ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah
berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu. Apa daya,
kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin
disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas
ranjau.
Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat
pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam
tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya
Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi
mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”
Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan
dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.
Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan
lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh,
ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari
mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.
Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan
artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar
ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api
itu semakin tak terkendali.
Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api
menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu
dengan kekuatan-Mu.” Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam.
Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa
Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka
dengan segera.
Merpati dan Anjing
Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada
situs Filithin Al Aan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar
Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara
melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di
wilayah itu.
Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap
adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati. Begitu merpali itu
melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian
mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian
bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.
Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana
diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan
mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam,
tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu
kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel
menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.
Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat.
Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata
kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami
diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah
dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”
Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan
dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan
memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu,
lalu beranjak pergi.
Kabut pun Ikut Membantu
Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al
Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur
di masjid Al Qassam (17/1/2009). Saat itu sekelompok mujahidin yang
melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan
khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi. Di saat
posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam
itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu
pasukan mujahidin keluar dari kepungan.
Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin
lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com (sudah
tidak bisa diakses lagi). la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba
turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan. Awalnya,
pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati
tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa
kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu
Ubaidah.
Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin
segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di
dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat
mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel
yang berada di sekitar kendaraan militer itu.
Selamat Dengan al-Qur’an
Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka
memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget
ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku
pejuang tersebut. Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu
gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku
doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.
Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu
saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah
“berantakan”. Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan
diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis
situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).
Dr. Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru,
mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim
yang menahan peluru tersebut.
Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya
kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid
itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan
tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak
tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.
“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang
mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan
Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira
kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa
musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah
kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana
dikutip Islam Online (15/1/2009).
Harum Jasad Para Syuhada
Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu)
al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang
berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.
Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh
Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut
dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan
dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa
pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.
Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com
(24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah
ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul
bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada
orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan)
Abu Hamzah ini. Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah
tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan
tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik. Bahkan, menurut
pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan
amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan
yang sama.
Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar,
mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di
Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut
mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu
Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri
harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al
Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya
telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat
bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa
saya mencium bau harumnya para syuhada.”
Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan
sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan
Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka
beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat
mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan
bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer.
Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di
Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad
Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam
sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan
wafatnya di medan pertempuran tersebut.
Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta
melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun
itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti
orang yang sedang tertidur.
Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk
menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya
meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar
dari itu,” jawabnya.
Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah
beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya
sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang
Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009).
Terbunuh 1.000, Lahir 3.000
Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok
disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya
nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama
22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.
Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian
Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi
lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17
Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan
meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,”
katanya.
“Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam
satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa
serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa
bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari
terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.
Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka
kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian
mencapai 5 ribu. Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk
menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah
dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.
Pray For Gaza
Kamis, 22 November 2012
25 masjid di Gaza dibom oleh pasukan Zionis Yahudi
GAZA (Arrahmah.com)
- Menteri agama di Gaza pada Senin (19/11/2012) mengatakan bahwa
pasukan Zionis Yahudi merusak 25 masjid dalam enam hari pemboman di
seluruh Jalur Gaza, Ma'an melaporkan.
"Penjajah dalam agresi mereka tidak hanya melakukan kejahatan terhadap warga sipil, seperti yang terjadi dengan keluarga Salah, Al-Dalou, dan Azzam (yang mana kehilangan banyak anggota keluarganya dalam serangan udara -red), tetapi menargetkan masjid-masjid, makam-makam, dan rumah-rumah ibadah (lainnya)," kata Ismail Radwan dalam sebuah konferensi pers di luar masjid Al-Abbas.
"Mereka juga menargetkan dan benar-benar menghancurkan Masjid Ribat di kota Gaza dan Masjid Al-Rahman di pusat Jalur Gaza," tambahnya
Radwan juga menyeru para ulama Islam dan para imam di Palestina dan di seluruh dunia untuk mendoakan para korban dan para Mujahidin Palestina.
Dia juga menyeru imam besar Al-Azhar, Syaikh Ahmad al-Tayib dan para imam lainnya untuk mengunjungi Jalur Gaza dan berdiri di samping rakyat Palestina.
Radwan juga mendesak masyarakat internasional dan organisasi-organisasi HAM untuk menyeret para pemimpin Israel ke pengadilan atas kejahatan perang mereka, dan menyeru Liga Arab dan Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk memenuhi kewajiban mereka dan mendukung rakyat Palestina dalam mempertahankan tanah suci Islam ini.
"Penjajah dalam agresi mereka tidak hanya melakukan kejahatan terhadap warga sipil, seperti yang terjadi dengan keluarga Salah, Al-Dalou, dan Azzam (yang mana kehilangan banyak anggota keluarganya dalam serangan udara -red), tetapi menargetkan masjid-masjid, makam-makam, dan rumah-rumah ibadah (lainnya)," kata Ismail Radwan dalam sebuah konferensi pers di luar masjid Al-Abbas.
"Mereka juga menargetkan dan benar-benar menghancurkan Masjid Ribat di kota Gaza dan Masjid Al-Rahman di pusat Jalur Gaza," tambahnya
Radwan juga menyeru para ulama Islam dan para imam di Palestina dan di seluruh dunia untuk mendoakan para korban dan para Mujahidin Palestina.
Dia juga menyeru imam besar Al-Azhar, Syaikh Ahmad al-Tayib dan para imam lainnya untuk mengunjungi Jalur Gaza dan berdiri di samping rakyat Palestina.
Radwan juga mendesak masyarakat internasional dan organisasi-organisasi HAM untuk menyeret para pemimpin Israel ke pengadilan atas kejahatan perang mereka, dan menyeru Liga Arab dan Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk memenuhi kewajiban mereka dan mendukung rakyat Palestina dalam mempertahankan tanah suci Islam ini.
WE WILL NOT GO DOWN
WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Langganan:
Postingan (Atom)




